modal sosial untuk penguatan inovasi nasional
Pada 2002, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 18 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek (Sisnas P3 Iptek). Tujuan utama dikeluarkannya UU tersebut adalah mendukung sistem inovasi nasional. Adapun urat nadi sistem inovasi adalah sinergi di antara tiga komponen utamanya, yaitu lembaga riset, universitas, dan industri. Konsep tersebut dikenal dengan model triple helix atau ABG, yaitu akademisi, bisnis, dan pemerintah.
Mengutip buku Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan Indonesia, KNRT, 2009, bahwa secara umum kinerja sistem inovasi Indonesia masih menunjukkan kinerja yang belum baik. Dalam skala ASEAN misalnya, indikator-indikator kinerja sistem inovasi, seperti biaya research and development, paten, dan kolaborasi riset universitas dengan perusahaan, dan pengeluaran litbang sektor swasta masih sangat rendah. Walaupun nilai tambah industri sebagai prosentase PDB dari tahun 2003 ke 2008 naik menjadi 48,1%, angka itu hanya berada sedikit di atas Malaysia. Adapun rata-rata ekspor teknologi tinggi sebagai persentase ekspor manufaktur pada 2001-2007 menduduki peringkat nomor dua dari bawah, yaitu 14,3%. Bahkan pada 2006-2008, Indonesia menduduki posisi juru kunci dalam hal daya serap teknologi di tingkat perusahaan. Hal itu semakin menguatkan bukti bahwa kinerja sistem inovasi belum berjalan dengan baik. Salah satu topik permasalahan klasik yang masih up to date adalah sinergi antarelemen triple helix belum berjalan dengan baik.
Pertanyaannya, apa upaya yang harus dilakukan untuk membangun sinergi ABG bagi keberhasilan suatu sistem inovasi nasional?
Jika kisah kesuksesan Korea ditengok, diketahui bahwa tahap awal pembangunan sinergi didahului dengan pembangunan soft technology, misalnya sharing knowledge, networking, dan kerja sama. Salah satu contoh pusat inovasi tersukses di Korea adalah Chungnam Techno Park (CTP). Ide mendirikan CTP merupakan inisiatif atas sekelompok profesor melalui proses sharing knowledge. Inisiasi tersebut kemudian mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat dan daerah. Hasilnya, setelah 11 tahun berdiri, yaitu selama periode 1999-2009, CTP telah menghasilkan 282 industri baru, dengan total produksi mencapai US$6 miliar. CTP juga telah menginvestasikan anggaran riset untuk 250 perusahaan, dengan total produk senilai US$8 miliar. Adapun jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai angka 14.884 orang.
Senada dengan Korea, Jerman berhasil membangun model sinergi ABG juga dengan mengoptimalkan salah satu pusat inovasi yang cukup terkenal di Jerman. Pusat inovasi tersebut adalah Science Park Berlin Adlershof yang berlokasi di daerah ibu kota Jerman. Aldershof mempunyai empat bidang industri, yaitu teknologi informasi dan media, fotoniks dan optik, mikrosistem dan material, serta jasa. Adapun mekanisme sinergi ABG dari Adlershof adalah lembaga riset dasar mempunyai fungsi untuk meningkatkan pendidikan dan riset dasar, lembaga riset nonuniversitas bertugas di bidang pengembangan riset dengan mengoordinasikan antara industri kecil dan menengah yang bertugas dalam produksi serta jasa dan lembaga riset dasar. Adapun mekanisme kolaborasi dari keseluruhan elemen tersebut dikoordinasi sepenuhnya oleh Science Park Adlershof yang bersifat independen dari pemerintah.
Selain contoh Korea dan Jerman, Jepang, khususnya Kyoto Research Park, juga memiliki model yang terbukti sukses dalam membangun sinergi, khususnya antara akademisi dan industri. Model tersebut terkenal dengan Kyoto Solution. Adapun inti Kyoto Solution adalah mengisi gap antara akademisi dan industri melalui suatu pendekatan 'saling bertemu dan bertukar ilmu dan pendapat antarprofesional'. Dengan dukungan Pemerintah Prefektur Kyoto, pendekatan itu berhasil memberikan benang merah antara persepsi inovasi dari kalangan akademisi yang cenderung education oriented dan pelaku bisnis yang bersifat profit oriented.
Jika belajar dari pengalaman Korea, Jerman, dan Jepang, untuk membangun sinergi ABG paling tidak dibutuhkan tiga langkah.
Pertama, memperkuat soft technology seperti sharing knowledge, budaya kerja sama, dan networking ABG khususnya dan masyarakat umumnya. Hal itu dapat dilakukan di antaranya dengan, pertama, memperkenalkan dan memperkuat kembali budaya gotong royong. Kedua, mendukung segala bentuk upaya vitalisasi praktik keagamaan yang berdasarkan penafsiran dan pemahaman yang benar, khususnya dalam menjawab permasalahan kekinian seperti teknologi, inovasi, dan lain-lain. Upaya-upaya sejenis seharusnya menjadi isu utama bangsa ini. Selain untuk mempertegas dan memperkuat identitias bangsa, sebagai langkah preventif untuk mengurangi sikap atau tindakan egoisme, anarkisme, terorisme, dan fanatik buta atas nama kelompok yang telah menghancurkan modal sosial bangsa selama ini.
Kedua, mendorong kembali upaya untuk menjadikan pusat-pusat inovasi yang telah ada seperti Puspiptek, Jababeka Research Center, Cibinong Science Center, dan Solo Techno Park sebagai pusat ekosistem bagi sistem inovasi. Upaya itu harus didukung dengan mengadopsi faktor keberhasilan negara lain dengan tetap menyesuaikan dengan karakter dan potensi daerah.
Ketiga, mendorong upaya tata lembaga yang lebih baik. Di antaranya adalah mendorong supaya pusat inovasi menjadi icon pembangunan nasional dan daerah.
Sebagai penutup, saya mengutip pernyataan yang pernah dilontarkan Presiden Chungnam Techno Park di Korea, The greatest harmony for your success. Di antara makna yang dapat diambil adalah bahwa kesuksesan sistem inovasi sangat bergantung pada hubungan yang harmonis di antara unsur ABG.
oleh M Athar Ismail Muzakir SSi ME Staf Kedeputian Bidang Program Riptek-Kementerian Ristek
Sumber: Media Indonesia Online